10/28/10

Mengharubiru

Bukannya tak pernah mencoba melengos dari percik mu yang membujuk. Dua warsa kuhabiskan untuk berlari sembunyi agar tak terjangkau percikanmu yang hangat, agar tak tertusuk panah tajammu yang kau umbar di balik seraut kanvasmu yang teduh menjajikan kelembutan.
Namun dayaku tuntas terkuras, gemetar menunduk di hadapan sinarmu yang naif jauh dari sangka. Tiada sedikitpun praduga kau siratkan saat mata lelah ini memberanikan diri menatapmu. Pula setiap detik-detik tatap beradu. Pernahkah kau sangka, bukan semata ketidaksengajaan belaka bila kita bertemu. Bukan pula sebuah kebetulan tatap mata lelah hampa itu menyapu wajah teduh mu.Naif !!!
Benci. Benci sekali mesti kusandang lagi getar yang pernah ingin kubiarkan terkubur di dasar samudera. Terkubur di rerimbunan kesadaran betapa jauh jarak dan waktu menghantarku mendaki gunung-gunung kehidupan ini. Jarak yang cukup jauh untuk sampai ke hadapanmu.

Lag-lagi dan lagi.. kau seret juga langkahku menuju jalan rumah teduhmu. Lagi dan lagi kau paksa aku terjun di kancah peperangan hati yang kian panas dan menyiksa. Mestikah ku menyerah dan tunduk di hadapan pesonamu, Sementara bayangan hitam legam wajah amor masih menganga menjadi trauma.

Jangan dulu, sungguh kuharap jangan dulu lagu rindumu berlagu meradang di persada  sunyi yang masih ingin kujaga. Aku benci pertarungan ini...................

0 comments:

Post a Comment

 
;